
LINTASKABAR24, Muara Teweh – Sebanyak 36 tenaga kesehatan dari 17 puskesmas dan RSUD Muara Teweh mengikuti Pelatihan Basic Obstetric Neonatal Emergency Life Support (BONELS) Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara.
Pelatihan tersebut dilaksanakan selama lima hari, mulai 24 hingga 28 September 2026, dengan metode blended learning. Dua hari pertama dilaksanakan secara daring pada 24–25 September, sementara kegiatan tatap muka berlangsung selama tiga hari, 26–28 September 2026, di Aula Lantai II RSUD Muara Teweh.
Ketua Panitia Pelatihan BONELS, Ermidawaty SKM menyampaikan, laporan pelaksanaan kegiatan tersebut dalam pembukaan pelatihan di Aula Lantai II RSUD Muara Teweh, Sabtu 26 September 2026.
Ermidawaty mengatakan, peningkatan kompetensi tenaga bidan menjadi salah satu hal penting dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu dan bayi, khususnya ketika tenaga kesehatan menghadapi kondisi kegawatdaruratan di lapangan.
“Sebagai tenaga kesehatan yang berada di tengah-tengah masyarakat, bidan dapat dihadapkan pada kasus kegawatdaruratan umum. Karena itu, diperlukan peningkatan kualitas dan kompetensi bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan sesuai dengan kompetensinya,” ujar Ermidawaty.
Menurutnya, pelatihan BONELS diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tenaga bidan dalam memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat pada kasus kegawatdaruratan maternal maupun neonatal.
“Dengan memiliki kompetensi BONELS, bidan diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat, sehingga dapat membantu menyelamatkan nyawa serta meminimalkan risiko kecacatan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” katanya.
Ia menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari 17 puskesmas yang ada di Kabupaten Barito Utara serta RSUD Muara Teweh, dengan total 36 peserta. Pelatihan tersebut memiliki tujuan umum meningkatkan kemampuan bidan dalam penatalaksanaan kegawatdaruratan maternal, neonatal dan kegawatdaruratan umum.
Sementara kompetensi yang dibangun meliputi pencegahan infeksi, pengisian partograf, pemahaman Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Bantuan Hidup Dasar (BHD), initial assessment, penatalaksanaan persalinan dengan penyulit, penatalaksanaan postpartum, hingga penanganan asfiksia pada bayi baru lahir.
Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai penatalaksanaan gangguan jalan napas dan pernapasan, syok hemoragik, trauma muskuloskeletal, evakuasi dan transportasi serta proses rujukan.
Ermidawaty menambahkan, kegiatan tersebut bekerja sama dengan institusi pelatihan Primamed Nusa Persada yang telah terakreditasi B oleh Kementerian Kesehatan RI.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan didukung lima instruktur dan fasilitator yang berpengalaman serta tersertifikasi sebagai fasilitator dan instruktur, satu pengendali pelatihan dan satu petugas Quality Control.
“Struktur program pelatihan BONELS ini sebanyak 33 JPL dan peserta mendapatkan 10 SKP. Metode pembelajaran dilakukan melalui teori, ceramah interaktif, diskusi kelompok, role play, praktikum, simulasi hingga simulasi komprehensif,” jelasnya.
Ermidawaty berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian pelatihan dengan baik dan menerapkan kompetensi yang diperoleh dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Harapan kami, ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan di tempat tugas masing-masing, sehingga semakin memperkuat kualitas pelayanan kesehatan, terutama dalam menghadapi kegawatdaruratan maternal dan neonatal,” pungkasnya.(Ikal/LK1)




