Kondisi Bandara Haji Muhammad Sidik (HMS), Senin 2 November 2026 setelah dua bulan terganggu akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.(foto: Theo)

LINTASKABAR24, Muara Teweh – Aktivitas penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik (HMS) Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mulai kembali normal setelah lebih dari dua bulan terganggu akibat kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla).

Kepala Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Muhammad Amrillah K, mengatakan bahwa penerbangan pada Senin 2 November 2026 sudah mulai kembali beroperasi, meskipun jumlah penumpang masih relatif sedikit.

“Hari ini, penerbangan ke Muara Teweh mulai normal, namun jumlah penumpang masih relatif sedikit. Sebelumnya, sejak Rabu 19 Agustus 2026 lalu, penerbangan dibatalkan karena kabut asap,” ujar Amrillah saat ditemui di Muara Teweh, Selasa 3 November 2026.

Ia menjelaskan, penerbangan yang kembali melayani masyarakat di antaranya maskapai Wings Air rute Banjarmasin, Kalimantan Selatan–Muara Teweh yang dijadwalkan setiap hari pulang pergi.

Namun, untuk penerbangan Wings Air pada Senin pagi dibatalkan. Maskapai tersebut hanya melayani penerbangan pada siang hari dengan jumlah 20 penumpang yang datang dari Banjarmasin dan 28 penumpang yang berangkat dari Muara Teweh.

Selain Wings Air, penerbangan perintis menggunakan pesawat Susi Air juga melayani rute Muara Teweh–Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya maupun sebaliknya setiap hari Senin. Akan tetapi, pada penerbangan pengganti jadwal kali ini, tidak terdapat penumpang baik dari Palangkaraya maupun Muara Teweh.

Amrillah juga menyampaikan bahwa penerbangan Wings Air pada Selasa 3 November 2026 kembali dibatalkan karena alasan operasional. Maskapai tersebut dijadwalkan beroperasi kembali pada Rabu 4 November 2026 dan hari-hari berikutnya.

Untuk penerbangan perintis, Bandara Haji Muhammad Sidik melayani rute Palangka Raya–Muara Teweh pulang pergi menggunakan pesawat jenis Cessna berkapasitas 12 penumpang dengan frekuensi satu kali dalam sepekan, yakni setiap Senin.

Adapun tarif tiket penerbangan bersubsidi tersebut sebesar Rp 540.020 untuk rute Palangka Raya–Muara Teweh dan Rp 493.420 untuk rute sebaliknya.

Sementara itu, rute Muara Teweh–Banjarmasin dilayani Wings Air setiap hari menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 dengan kapasitas 72 penumpang. Selain itu, penerbangan dari Muara Teweh menuju Balikpapan, Kalimantan Timur, dilayani melalui penerbangan carter oleh perusahaan pertambangan.

Menurut Amrillah, sebagian besar penumpang pada rute Banjarmasin merupakan masyarakat yang melakukan perjalanan dari dan menuju Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan Surabaya, dengan transit melalui Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

“Penumpang dari dan ke Banjarmasin kebanyakan pemudik dari Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur, ke Muara Teweh yang transit dari Bandara Syamsudin Noor. Begitu juga sebaliknya, dari Muara Teweh ke Pulau Jawa yang transit melalui Banjarmasin,” jelasnya.

Kembali beroperasinya penerbangan di Bandara Haji Muhammad Sidik disambut gembira masyarakat, terutama pengguna jasa transportasi udara yang selama kabut asap terpaksa menggunakan jalur darat untuk bepergian ke luar daerah.

Selama penerbangan terganggu, perjalanan darat dari Muara Teweh menuju Palangkaraya membutuhkan waktu sekitar 7–8 jam, sedangkan menuju Banjarmasin dapat mencapai 9–11 jam.

Salah seorang warga Muara Teweh, Nema, mengaku bersyukur karena kini dapat kembali menggunakan transportasi udara setelah melakukan perjalanan dinas ke Pulau Jawa. “Alhamdulillah, saya bisa pulang ke Muara Teweh menggunakan pesawat yang ditempuh dengan waktu tidak lama,” ungkapnya.

Kembali normalnya aktivitas penerbangan ini diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat, mendukung aktivitas ekonomi, serta memperlancar konektivitas Kabupaten Barito Utara dengan sejumlah daerah lainnya.(Theo/LK1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here